Tuesday, December 15, 2009

Menjadi Ibu....

Ada banyak cerita, salah satunya begini.....

Aku sedang duduk di depan sebuah poli di rumah sakit yang penuh antri pasien....duh...ramme dan bau obat,keringat,abab...bercampur jadi satu, sabar antri ceritanya....dah kunikmati aja jadi rakyat biasa. Kenapa kukatakan sebagai rakyat biasa?? Soalnya begini....ada sebuah tradisi di negara kita aja mungkin ya, kalo istri pejabat,istri dokter juga nih, dapat perlakuan khusus, tanpa harus antri he...he...he...monggo...monggo...ibu dipersilahkan...nah pasien yang lain yang udah antriiii cuma bisa menatap...tanpa bisa protess hihhiihhii, yang salah siapa hayooo? Yang salah yaaa aku, udah tahu istri dokter ngapain ikut antri jadi pasien dokter lain...ha...ha...ha...kan dah punya dokter sendiri....

Nah....sedang menikmati pisang rebus yang di jual para penjual keliling di rumah sakit, ada seorang ibu setengah baya...berjalan terseret...membawa sebuah tongkat penyanggah tubuhnya...yang sudah mulai lemah....di tangan kanannya membawa berkas status penyakitnya, tangan kirinya menenteng tas agak kumal dan agak besar mungkin berisi uang,kunci rumah,sapu tangan, bedak,roti,atau...kosong hanya selembar karcis antrian? nggak tahulah....kok nebak-nebak....

Ibu tadi duduk persis di sebelahku. Nafasnya terengah-engah karena harus naik ke lantai empat, meskipun dah ada lift, tetep terlihat capeek , wajahnya nggak terlalu sedih, masih bisa tersenyum kusapa...."Silahkan duduk sini , Bu...nggak apa-apa...", kasihaaan pikirku...aku tak berdiri aja deh....sambil lihat-lihat ke lantai bawah yang penuuuh pasien,seliweran dokter, perawat, mahasiswa, dan kantin-kantin makanan penuh orang sarapan....begitu kulihat kursi masih ada sedikit untukku, aku duduk lagi di sebelahnya.

Sedikit ngantuk....kudengar pelan-pelan Ibu itu bicara sendiri...karena hanya aku yang dengar, yaaa kudengarin aja. "Punya anak empat...semua jauh". Aku manggut-manggut sambil melirik kepadanya. "Yaaa begini ini nak...sudah tua, penyakit numpuk,suami nggak ada, anak nggak ada....". Langsung aku tertarik tuk bertanya sesuatu. "Lho...suami ke mana...?" "Sudah meninggal....". "Lha anak-anak Ibu ke mana...?" "Anak saya empat naaak, satu di Bandung, satu di luar Jawa, dua di Jakarta, semua sudah jadi 'orang', sukses...". Sambil tersenyum dan bangga, dia menoleh ke arahku...."Sampean masih muda naaak seperti anakku yang nomer tiga, umurnya baru 30 tahun....". Alhamdulilllah padahal aku sudah hampir empat puluh...? 10 tahun tampak lebih muda menurutnya....

Bagaimana anak-anaknya yang katanya dah sukses, dah jadi orang, membiarkan ibunya seorang diri...berobat ke rumah sakit ini??? Maaf, tahu sendiri kan bagaimana di rumah sakit pemerintah? Terseret-seret jalannya, tasnya udah kumal, bajunya udah bau keringat, masyaalloh.....di manakah anak-anakmu buuuuuu? Berkecamuk segala macam pertanyaan,bisa kah di sebut anak durhaka mereka? duh...Alloh...ampuni mereka yang tidak mengerti akan penderitaan ibunya...ibunya...ibunya...anak empaaat kan cukup banyak? Bisa berbagi tugas merawat ibunya? Bisa berbagi duit tuk menafkahi ibunya? "Yaaah nak, Aku dulu merawat, mendidik anak-anaku, dengan disiplin yang bagus, kukasih dia gizi yang terbaik, kusekolahkan dia dengan sekolah yang terbaik,kuajari ngaji, kusuruh sholat lima waktu, karena aku ingin anak-anakku jadi orang sukses, nggak seperti aku yang cuma ibu rumah tangga....". Dengan tak henti-henti nya dia bercerita...membanggakan anak-anaknya.....

Karena sudah tak tahan lagi, aku tiba-tiba protes dengan nada agak tinggi "Lho ! Bu! Lha sekarang kemana semuaaa tuh anak-anak yang ibu ceritakan?!". Ibu itu kaget! Menatapku...tapi kembali tersenyuuum...duuuh Ibu ini....bikin aku gregetan aja...dia ambil nafas dalam-dalam sambil sedikit menerawang jauuuh mungkin sedang menyusun kata-kata tuk menjawab pertanyaanku....."Aku memang sengaja merahasiakan keluh kesahku, sengaja menutup-nutupi sakitku,sengaja...semua kusengaja...agar anak-anakku nggak ikut sedih, aku ingin mereka sukses dengan kariernya naaak, biarlah dunia mereka jadi miliknya, biarlah duniaku saat ini hanya aku yang menikmati, biarlaah...biarlaaah mereka hanya tahu Ibunya senang,sehat, dan masih kuat membiayai hidupnya sendiri....". Aku trenyuuuh mendengarnya...menetes air mataku..tapi cepat-cepat ku apus...takut Ibu itu tahu....dilanjutkannya lagi..."Lha yo naaak, anak sedikit, anak banyak....sama aja...semua akan meninggalkanmu nak, tapi biarlaaah jangan kita ini nggandoli, menambah beban pikiran mereka, lha yang penting keluarganya baik-baik, jadi orang sukses, yaaa sudah...aku nggak minta yang lain-lain lagi, itu memang sudah menjadi cita-citaku...nak?"

Duuuuh semudah itu Ibu itu bercerita dan bertutur kata.....salahkah? Benarkah? Aaaah itu sudah menjadi pilihannya menjalani hidupnya.....selanjutnya aku hanya bisa diam...."Bu Irma!" yaaaah sudah dipanggil.....

4 comments:

  1. kan di atas tadi dah kasih komen maaaaaaasssss? lupa yaaaa?

    ReplyDelete
  2. Itulah sebuah kasih sayang.........orangtua.
    Yang tulus tiada berharap. Biarkan dunia mengecamnyan....memakinya.....menghujatnya......orangtua tetap menyayanginya.

    ReplyDelete
  3. terima kasiiiih.....menjadi Ibu bukan pekerjaan yang sederhana.....saya sedang menjalani proses yang terus menerus menjadi yang terbaik tuk masa depan generasi negeri ini....

    ReplyDelete