Biar Lambat Asal Selamat, dahulu aforisma semacam ini dianut sebagai bagian dari kehidupan Timur yang tenang, damai, dan penuh pemaknaan terhadap kearifan hidup. Kini, nyaris semua orang HARUS bergerak capat. bahkan slogan calon Presiden kita yang lalu berslogan Lebih Cepat Lebih Baik! Mengiringi kehidupan yang semakin bergaya moderen, serba komputer yang supercepat terus beranak-pinak setiap tahun, kendaraan penumpang berlomba memperbesar dapur ruang pacu agar melaju lebih cepat lagi, makan dipercepat, dan banyak orang berlari terbirit-birit dari satu jadual ke jadual lainnya.
Apa yang salah dengan dunia kita yang kini serba cepat? Menurut Carl Honore, semua keyakinan bahwa kecepatan menjanjikan segala sesuatu akan berjalan lebih baik hanyalah mitos. Hmm....slogan Lebih Cepat Lebih Baik hanyalah mitos?? Maaf jangan tersinggung dulu, ini hanyalah pendapat seseorang, tapi sangat penting untuk direnungkan. Kenyataanya memang banyak hal dikorbankan dalam hal perlombaan kecepatan itu dan kita masih tetap diam di tempat.
Pada 1982, Larry Dossey, seorang dokter Amerika, menciptakan istilah time sickness (mabuk waktu) untuk menggambarkan sebuah kepercayaan obsesif bahwa "waktu senantiasa menghilang, dan manusia tak pernah merasa cukup waktu, dan bahwa kita harus mengayuh lebih cepat untuk dapat mengejarnya. Saat ini, seluruh dunia mengalami time sickness itu. Hari ini kita semua tunduk pada kultus kecepatan. Mengapa kita selalu dalam keadaan tergesa-gesa? Apa yang bisa menyembuhkan time sickness ini? Mungkinkah, atau bolehkah, memperlambat ritme kehidupan?
Pada tahun-tahun awal abad ke-21 ini, segala sesuatu dan semua orang, berada dalam tekanan untuk bergerak lebih cepat lebih baik. Beberapa contoh di negeri tercinta ini,terdapat program percepatan pembangunan, untuk sebuah daerah yang tertinggal, program akselerasi dalam dunia pendidikan, makanan cepat saji, dll. Akhirnya kehidupan yang kita rasakan saat ini bergerak dari suatu dunia di mana yang besar memangsa yang kecil menuju suatu dunia di mana yang cepat menghabisi yang lambat. Secara sadar manusia saat ini telah berkembang dalam situasi psikologi mengenai kecepatan,penghematan waktu, dan pemaksimalan efisiensi, yang semakin menguat dari waktu ke waktu.
Namun, setelah membaca buku ini, ada sebersit angan dan keinginan untuk menantang obsesi kita mengenai kebiasaan melakukan segala sesuatu secara lebih cepat. Kecepatan tidak selamanya merupakan kebijakan terbaik. Evolusi bekerja menurut prinsip survival for the fittest(yang terkuat yang bertahan) dan bukan survival for the fastest(yang tercepat yang bertahan). CMari kita ingat-ingat, siapakah yang keluar sebagai pemenang dalam perlombaan lari antara kura-kura dan rusa?
Ketika kita terus dalam keadaan bergegas sepanjang hidup, dengan selalu berusaha mendapatkan lebih banyak hal dalam waktu yang lebih sedikit, sebenarnya kita sedang memaksa diri hingga pada titik yang membahayakan diri sendiri.
Wednesday, December 23, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

Pentingnya buku ini, bagi saya bagaimana membuat hidup ini lebih banyak waktu untuk menciptakan interaksi2 baru dengan keluarga...serta menjadikan hidup lebih sehat dengan makanan-makanan yang disajikan lebih lambat dan mengurangi makanan cepat saji yang tidak sehat....
ReplyDelete