Wednesday, December 23, 2009

In Praise of SLOW

Biar Lambat Asal Selamat, dahulu aforisma semacam ini dianut sebagai bagian dari kehidupan Timur yang tenang, damai, dan penuh pemaknaan terhadap kearifan hidup. Kini, nyaris semua orang HARUS bergerak capat. bahkan slogan calon Presiden kita yang lalu berslogan Lebih Cepat Lebih Baik! Mengiringi kehidupan yang semakin bergaya moderen, serba komputer yang supercepat terus beranak-pinak setiap tahun, kendaraan penumpang berlomba memperbesar dapur ruang pacu agar melaju lebih cepat lagi, makan dipercepat, dan banyak orang berlari terbirit-birit dari satu jadual ke jadual lainnya.

Apa yang salah dengan dunia kita yang kini serba cepat? Menurut Carl Honore, semua keyakinan bahwa kecepatan menjanjikan segala sesuatu akan berjalan lebih baik hanyalah mitos. Hmm....slogan Lebih Cepat Lebih Baik hanyalah mitos?? Maaf jangan tersinggung dulu, ini hanyalah pendapat seseorang, tapi sangat penting untuk direnungkan. Kenyataanya memang banyak hal dikorbankan dalam hal perlombaan kecepatan itu dan kita masih tetap diam di tempat.

Pada 1982, Larry Dossey, seorang dokter Amerika, menciptakan istilah time sickness (mabuk waktu) untuk menggambarkan sebuah kepercayaan obsesif bahwa "waktu senantiasa menghilang, dan manusia tak pernah merasa cukup waktu, dan bahwa kita harus mengayuh lebih cepat untuk dapat mengejarnya. Saat ini, seluruh dunia mengalami time sickness itu. Hari ini kita semua tunduk pada kultus kecepatan. Mengapa kita selalu dalam keadaan tergesa-gesa? Apa yang bisa menyembuhkan time sickness ini? Mungkinkah, atau bolehkah, memperlambat ritme kehidupan?

Pada tahun-tahun awal abad ke-21 ini, segala sesuatu dan semua orang, berada dalam tekanan untuk bergerak lebih cepat lebih baik. Beberapa contoh di negeri tercinta ini,terdapat program percepatan pembangunan, untuk sebuah daerah yang tertinggal, program akselerasi dalam dunia pendidikan, makanan cepat saji, dll. Akhirnya kehidupan yang kita rasakan saat ini bergerak dari suatu dunia di mana yang besar memangsa yang kecil menuju suatu dunia di mana yang cepat menghabisi yang lambat. Secara sadar manusia saat ini telah berkembang dalam situasi psikologi mengenai kecepatan,penghematan waktu, dan pemaksimalan efisiensi, yang semakin menguat dari waktu ke waktu.

Namun, setelah membaca buku ini, ada sebersit angan dan keinginan untuk menantang obsesi kita mengenai kebiasaan melakukan segala sesuatu secara lebih cepat. Kecepatan tidak selamanya merupakan kebijakan terbaik. Evolusi bekerja menurut prinsip survival for the fittest(yang terkuat yang bertahan) dan bukan survival for the fastest(yang tercepat yang bertahan). CMari kita ingat-ingat, siapakah yang keluar sebagai pemenang dalam perlombaan lari antara kura-kura dan rusa?

Ketika kita terus dalam keadaan bergegas sepanjang hidup, dengan selalu berusaha mendapatkan lebih banyak hal dalam waktu yang lebih sedikit, sebenarnya kita sedang memaksa diri hingga pada titik yang membahayakan diri sendiri.

Saturday, December 19, 2009

Ternyata.......

Aku sedang duduk-duduk ngobrol dengan beberapa guru, Kepala Sekolah, Kepala Dinas Pendidikan, dan seorang dosen yang cantik.....ada banyak cerita menarik dan sangat mengeelitik,menggelikan, dan akhirnya ingin ku tulis di sini......

Ternyata.....
Memang dunia pendidikan di negeri kita yeach bisa dibilang sdg mati suri....kenapa kukatakan demikian, karena di satu sisi, tampak hidup dengan banyaknya murid, gedung-gedung sekolah yang bagus, dan fasilitas bagus, ada yang berangkat sekolah, ada yang berngkat ngajar, ada yang jadi Kepala Sekolah, ada yang jadi Kepala Dinas sampai ada yang langganan jualan mainan dan kue dengan sepedanya di halaman sekolah....heh! Di satu sisi tampak mati, mati kreativitas, mati innovasi, mati karya, mati pendapat,mati kemandirian, mati kepribadian, karena hanya sedikit sekolah yang mengerti tentang kemandirian seorang anak dalam belajar. Setiaaap hari anak-anakku hanya masuk kelas, duduk manis, ndengerin Pak dan Bu Guru baca buku cerita, ada cerita PPKN, ada cerita Bahasa Indonesia, Matematika,IPS, Agama, Bahasa Inggris.....ouh...capek deeeh...belum lagi dapat titipan PR!

Dan Ternyata.......
Ada yang sedang bisik-bisik hampir tak terdengar ...tapi samar-samar aku paham maksudnya...."Siap-siap niiih anak-anak mau Ujian Nasional......team SETIP nya sudah disiapkan?" Sepertinya dia seorang Kepala Sekolah sedang berbisik kepada seorang guru, gurunya manggut-manggut sambil sedikit tersenyum....menoleh ke arahku...kubalas dengan senyuman termanisku! Deg...deg....deg...jantung
ku berdebar! Tak beraturan...tak ada irama tiba-tiba ingin berhenti...jangan...kubilang pada jantungku nanti aku nggak bisa dengerin obrolan selanjutnya.....ssssttt diem Batinku! Jangan ribut duluuu jangan protes duluuu, diem.....

Seorang Guru datang lagi menghampiri mereka berdua....."Wah...pokoknya siap-siap berbuat dosa lagi deeeh tahun ini, lha pesenannya Pak Bupati je...satu kabupaten harus lulus!" Langsung mereka bertiga tertawa lepaaas tanpa beban huaahhahahaha......sambil melirik ke arahku...aku yang duduk dekat mereka sekali lagi kuberikan senyum termanisku! Dasar! Sialan! Gerrrraaaam ingin ku tonjok muka mereka! Tapi apa daya...tanganku kecil, nggak jago silat, pengen kutendang nggak jago karate, pengen ku banting nggak jago Judo...dasar aku diciptakan menjadi seorang manusia paling cantik di dunia ini...maka aku hanya ...sekali lagi melepas senyuman termanisku!

Ternyata......
Heh! Begitulah...aku segera pulang menemukan anak-anakku sedang tekun belajar di kamarnya, sedang menghafal rumus-rumus Fisika, mencoba menguraikannya dalam bentuk soal-soal, Vq memang sedang semangat mengejar asa nya menjadi seperti Ayahnya, semoga naaak terkabul.....cita-citamu tanpa noda SETIP dari guru-guru mu....hiks.....hiks....hiks....

Friday, December 18, 2009

The Restricted Joke

A doctor was having an affair with his nurse. Shortly afterward, she told him she was pregnant. Not wanting his wife to know, he gave the nurse a sum of money and asked her to go to Italy and have the baby there.....

"But how will I let you know the baby is born?" She asked. He replied,"Just send me a postcard and write "spaghetti" on the back. I'll take care of expenses." Not knowing what else to do, the nurse took the money and flew to Italy.

Six months went by and then one day the doctor's wife called him at the office and said, "Dear, you received a very strange postcard in the mail today from Europe, and I don't understand what it means." The doctor said, "Just wait until I get home and I will explain it to you." Later that evening the doctor came home, read the postcard, fell to the floor with a heart attack.

Paramedics rushed him to the ER (emergency room)
The lead medic stayed back to comfort the wife. He asked what trauma had precipitated the cardiac arrest. So the wife picked up the card and read, "Spaghetti, Spaghetti, Spaghetti, Spaghetti - Two with sausage and meatballs, two without."

Wednesday, December 16, 2009

Model Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Profesionalisme Dan Kedisiplinan Guru

Oleh : Irma Surayya Hanum

BAB I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah

Kualitas penyelenggaraan pendidikan selalu terkait dengan masalah sumber daya manusia yang terdapat dalam institusi pendidikan tersebut. Masalah sumber daya manusia, khususnya di sebuah lembaga pendidikan selalu mewarnai baik buruknya mutu pendidikan yang dihasilkan. Apalagi, realitas pendidikan Indonesia tampaknya masih kesulitan untuk dapat mengatasinya. Dalam mengelola sebuah lembaga pendidikan, perhatian terhadap sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan memerlukan perhatian serius karena berkaitan erat dengan proses dan isi pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah. Di antara sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan tersebut yang paling berhubungan langsung dengan kegiatan pendidikan adalah guru.

Masalah peningkatan mutu pendidikan merupakan masalah yang sangat kompleks dan penting sesuai dengan isi Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 yang berbunyi: Sistem pendidikan Nasional harus menjamin pemerataan pendidikan, peningkatan mutu serta relevensi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan lokal, nasional dan global. Karena itu peningkatan mutu pendidikan berarti berkaitan dengan peningkatan mutu proses belajar mengajar, dalam hal ini diperlukan profesionalisme dan kedisiplinan seorang pendidik di dalam menyelenggarakan proses belajar di sekolah.

Profesionalisme dan kedisiplinan seorang Guru di dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang pendidik memang merupakan tanggung jawab pribadi guru itu sendiri. Kenyataannya, ada guru yang sangat profesional dan disiplin dalam menjalankan tugasnya, begitu juga sebaliknya, ada guru yang malas, kurang profesional, dan tidak disiplin dalam menjalankan tugasnya, bahkan ada guru yang baru datang ke sekolah apabila akan menerima gaji.

Dari fakta di atas jelaslah bahwa untuk meningkatkan profesionalisme dan kedisiplinan guru diperlukan tanggung jawab penuh dalam diri seorang guru, selain itu juga sangat diperlukan peran seorang kepala sekolah sebagai pemegang kebijaksanaan dan keputusan tertinggi di Sekolah. Kepala Sekolah selain berfungsi sebagai administrator sekolah, juga berfungsi sebagai pengambil kebijaksanaan dan keputusan tertinggi di sekolah sekaligus dapat menindak tegas guru yang tidak profesional dan kurang disiplin di dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan utama dan kode keguruan.

I.2. Rumusan Masalah

Bagaimana kepala sekolah menerapkan model kepemimpinan transformasional dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan kedisiplinan guru?



BAB II. PEMBAHASAN

II.1. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah

Kepemimpinan merupakan proses di mana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai suatu tujuan. Kepemimpinan transformasional dibangun dari dua kata, yaitu kepemimpinan(leadership) dan transformasional(transformational). Istilah transformasi berasal dari kata to transform, yang bermakna mentransformasikan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda, misalnya mentransformasikan visi menjadi realita, atau mengubah sesuatu yang potensial menjadi aktual.

Adapun komitmen perilaku kepemimpinan transformasional menurut Burns(1978), mendefinisikan sebagai “ a process in wich leaders and followers raise to higher levels of morality and motivation. Gaya kepemimpinan seperti ini akan mampu membawa kesadaran para pengikut (followers) dengan memunculkan ide-ide produktif, hubungan yang sinergikal, kebertanggungjawaban, kepedulian edukasional, dan cita-cita bersama.

Pemimpin dan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memiliki visi ke depan dan mampu mengidentifikasikan perubahan lingkungan serta mampu memtransformasi perubahan tersebut ke dalam organisasi; memelopori perubahan dan memberikan motivasi dan inspirasi kepada individu-individu karyawan untuk kreatif dan inovatif, serta membangun team work yang solid; membawa pembaharuan dalam etos kerja dan kinerja manajemen; berani dan bertanggung jawab memimpin dan mengendalikan organisasi (Bass, 1985).

Yulk (1994) menyimpulkan esensi kepemimpinan transformasional adalah memberdayakan para pengikutnya untuk berkinerja secara efektif dengan membangun komitmen mereka terhadap nilai-nilai baru, mengembangkan ketrampilan dan kepercayaan mereka, menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas.

Secara sederhana kepemimpinan transformasional dapat diartikan sebagai proses untuk merubah dan mentransformasikan individu agar mau berubah dan meningkatkan dirinya, yang di dalamnya melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan serta penghargaan terhadap para bawahan.

Bass dan Avolio (1994) mengusulkan empat dimensi dalam kadar kepemimpinan transformasional dengan konsep 4 i yang artinya :

  1. idealized influence, yang dijelsakan sebagai perilaku yang menghasilkan rasa hormat (respect) dan rasa percaya diri (trust) dari orang-orang yang dipimpinnya. Mengandung makna saling berbagi resiko melalui pertimbangan atas kebutuhan yang dipimpin di atas kebutuhan pribadi, dan perilaku moral serta etis.
  2. inspirational motivation, yang tercermin dalam perilaku yang senantiasa menyediakan tantangan dan makna atas pekerjaan orang-orang yang dipimpin, termasuk di dalamnya adalah perilaku yang mampu mengartikulasikan ekspektasi yang jelas dan perilaku yang mampu mendemonstrasikan komitmen terhadap sasaran organisasi. Semangat ini dibangkitkan melalui antusiasme dan optimisme.
  3. intelllectual simulation. Pemimpin yang mendemonstrasikan tipe kepemimpinan senantiasa menggali ide-ide baru dan solusi yang kreatif dari orang-orang yang dipimpinnya. Ia juga selalu mendorong pendekatan baru dalam melakukan pekerjaan.
  4. individualized consideration, yang direfleksikan oleh pemimpin yang selalu mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memberikan perhatian khusus kepada kebutuhan prestasi dan kebutuhan dari orang-orang yang dipimpinnya.

Formulasi teori Bass (1985) meliputi tiga komponen: karisma, stimulasi intelektual, dan perhatian yang diindividualisasi. Karisma adalah bagian terpenting dari kepemimpinan transformasional karena para pemimpin mempengaruhi pengikutnya dengan menimbulkan emosi yang kuat dan identifikasi dengan pemimpin tersebut. Stimulasi intelektual ialah proses seorang pemimpin untuk meningkatkan kesadaran pengikutnya terhadap masalah-masalah dan mempengaruhi pengikutnya untuk memecahkan masalah-masalah itu dengan perspektif yang baru. Perhatian yang individualisasi ialah dukungan, membesarkan hati, dan memberi pengalaman-pengalaman kepada pengikutnya untuk lebih berprestasi.

II.2. Kedisiplinan dan Profesionalisme Guru

II.2.1. Pengertian Kedisiplinan

Kedisiplinan dalam arti luas adalah sebuah sikap dan nilai-nilai yang harus ditanamkan dan dilakukan oleh setiap individu yang mempunyai pekerjaan agar tujuan yang hendak dicapai dapat tercapai. Maka kedisiplinan seorang guru di sekolah mengandung arti bahwa sebuah sikap dan nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

II.2.2. Ciri-ciri Guru yang Disiplin dan Profesional

Dalam sistem dan proses pendidikan di mana pun sikap profesionalisme guru sangat menjamin proses belajar mengajar yang efektif sesuai yang diinginkan. Mengenai pentingnya mutu proses belajar mengajar Kusuma Atmajaya (1984) mengemukakan bahwa “ baik dan lengkapnya pengaturan kurikulum, metode mengajar, dan sarana pendidikan lainnya tidak menjamin keberhasilan pelaksanaan pendidikan karena keberhasilan sangatlah ditentukan oleh guru sebagai pelaksana”. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan mutu guru pemerintah telah melakukan berbagai usaha, melalui peningkatan sarana prasarana. Peningkatan kemajuan guru melalui peraturan-peraturan, pendidikan lanjutan, diskusi kelompok dan sebagainya. Selain itu untuk meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah harus ditunjang dengan sikap guru yang harus disiplin dan profesional sebagai kunci sukses peningkatan mutu pendidikan.

Ada pun ciri-ciri guru yang disiplin dan profesional antara lain:
  1. Disiplin terhadap perundang-undangan. Seorang guru dituntut untuk secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian yang harus dikembangkan oleh seorang guru.
  2. Disiplin taat terhadap organisasi profesi.
  3. Sikap hormat dan bekerjasama dengan teman se profesi.
  4. Seorang guru harus memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar lingkungan kerjanya.
  5. Memelihara sikap terhadap anak didik.
  6. Di dalam kode etik guru Indonesia dengan jelas dituliskan bahwa”guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia seutuhnya yang berjiwa pancasila”, ini berarti guru harus membentuk anak didiknya menjadi manusia Indonesia yang berjiwa Pancasila dan membentuk mental yang kuat yang dapat diandalkan sebagai pilar pembangunan bangsa Indonesia.
  7. Memelihara sikap terhadap tempat bekerja.
  8. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suasana yang baik di tempat kerja dapat mempengaruhi produktivitas dan semangat kerja, hal ini perlu menjadi acuan setiap guru untuk menciptakan dan memelihara suasana yang nyaman dalam lingkungan sekolah agar tercipta suasana harmonis di sekolah.
  9. Memelihara hubungan yang baik dengan atasan.
  10. Sebagai salah seorang anggota organisasi, guru akan selalu dalam pengawasan seorang pemimpin. Guru wajib membina hubungan baik dengan kepala sekolahnya.
  11. Disiplin terhadap pekerjaan, yang paling diinginkan dan diperlukan sekaligus harus dimiliki agar tercipta proses belajar mengajar yang diinginkan.

II.3. Upaya Meningkatkan Profesionalisme dan Kedisiplinan Guru Melalui Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah

Setiap pemimpin harus memiliki jiwa dan sikap yang dapat memberi contoh-contoh dan teladan bagi bawahannya. Dengan menggunakan model kepemimpinan transformasional dalam meningkatkan kedisiplinan dan profesionalisme guru, beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain adalah:
  1. Idealized influence: kepala sekolah merupakan sosok ideal yang dapat dijadikan panutan bagi guru dan staf nya, dipercaya, dihormati, dan mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan sekolah. Seorang kepala sekolah harus mampu membuat aturan dan tata tertib dan menjalankannya sesuai hasil keputusan bersama.
  2. Inspirational motivation: kepala sekolah dapat memotivasi seluruh guru dan staf nya untuk memiliki komitmen terhadap visi organisasi dan mendukung semangat team dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan di sekolah. Kepala sekolah dapat menyiapkan kurikulum sekolah yang tepat sesuai dengan kemampuan dan keahlian guru, meningkatkan keprofesionalan kerja, agar guru dapat termotivasi untuk berprestasi dalam bekerja.
  3. Intellectual Stimulation: kepala sekolah dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi di kalangan guru dan staf nya dengan mengembangkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah untuk menjadikan sekolah ke arah yang lebih baik. Langkah ini dimaksudkan untuk lebih mendukung dan mendorong tingkah laku positip dan disiplin guru.Langkah ini mempunyai strategi antara lain : a. Pemberian penghargaan yang membesarkan hati guru dan akan lebih mendorong guru berprestasi lagi. b. Pemberian insentif yang berupa tanda jasa yang dapat menjadikan guru selalu bertindak secara profesional dan disiplin.
  4. Individual consideration: kepala sekolah dapat bertindak sebagai pelatih dan penasihat bagi guru dan staf nya. Kepala sekolah dapat mengoreksi dan memperbaiki perilaku yang indisipliner dan malas, langkah ini mempunyai strategi:
  • Menggunakan teguran yang lemah untuk mengehntikan tingkah laku guru yang bersifat negatif.
  • Menggunakan tindakan yang keras untuk suatu tindakan yang melanggar peraturan
  • Memberikan sanksi yang logis terhadap pelanggaran tata tertib.

BAB III. PENUTUP

III.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil kajian literatur tentang model kepemimpinan transformasional, dapat disimpulkan bahwa seorang kepala sekolah dapat lebih menunjukkan sebagai seorang pemimpin yang efektif dengan hasil kerja yang lebih baik. Oleh karena itu merupakan hal yang sangat menguntungkan jika para kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan transformasional di sekolah dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan kedisiplinan guru sebagai ujung tombak untuk menghasilkan kelulusan yang berkualitas.

III.2. Saran-saran

Ada beberapa saran kepada Kepala Sekolah dalam menerapkan kepemimpinan transformasional terhadap guru :
  1. Berdayakan guru untuk melakukan hal yang terbaik untuk sekolah.
  2. Berusaha menjadi pemimpin yang bisa diteladani berdasarkan nilai tertinggi.
  3. Dengarkan semua pemikiran guru untuk mengembangkan semangat kerja sama sehingga guru merasa dihargai, dapat sadar dengan sendirinya untuk berpeilaku disiplin dan profesional.
  4. Ciptakan visi yang dapat diyakini oleh semua komponen pendidikan di sekolah (guru,staf,orang tua, masyarakat, pemerintah).
  5. Bertindak sebagai agen perubahan dengan memberikan contoh bagaimana menggagas dan melaksanakan suatu perubahan.
  6. Menolong lembaga pendidikan dengan cara menolong orang lain (khususnya guru) untuk merasa memiliki terhadap sekolah, sehingga menjadikan guru yang berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA

John Hall, et. Al. 2002. Transformational Leadership: The Transformation of Managers and Associates. On line : www.edits.ifas.ufl.edu

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Usman, Husaini. 2009. Bab 6 Kepemimpinan Dan Kekuasaan,Manajemen, Teori,Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Tjiptono,F dan Diana,A. Total Quality Management. Yogyakarta: ANDI

Tuesday, December 15, 2009

Menjadi Ibu....

Ada banyak cerita, salah satunya begini.....

Aku sedang duduk di depan sebuah poli di rumah sakit yang penuh antri pasien....duh...ramme dan bau obat,keringat,abab...bercampur jadi satu, sabar antri ceritanya....dah kunikmati aja jadi rakyat biasa. Kenapa kukatakan sebagai rakyat biasa?? Soalnya begini....ada sebuah tradisi di negara kita aja mungkin ya, kalo istri pejabat,istri dokter juga nih, dapat perlakuan khusus, tanpa harus antri he...he...he...monggo...monggo...ibu dipersilahkan...nah pasien yang lain yang udah antriiii cuma bisa menatap...tanpa bisa protess hihhiihhii, yang salah siapa hayooo? Yang salah yaaa aku, udah tahu istri dokter ngapain ikut antri jadi pasien dokter lain...ha...ha...ha...kan dah punya dokter sendiri....

Nah....sedang menikmati pisang rebus yang di jual para penjual keliling di rumah sakit, ada seorang ibu setengah baya...berjalan terseret...membawa sebuah tongkat penyanggah tubuhnya...yang sudah mulai lemah....di tangan kanannya membawa berkas status penyakitnya, tangan kirinya menenteng tas agak kumal dan agak besar mungkin berisi uang,kunci rumah,sapu tangan, bedak,roti,atau...kosong hanya selembar karcis antrian? nggak tahulah....kok nebak-nebak....

Ibu tadi duduk persis di sebelahku. Nafasnya terengah-engah karena harus naik ke lantai empat, meskipun dah ada lift, tetep terlihat capeek , wajahnya nggak terlalu sedih, masih bisa tersenyum kusapa...."Silahkan duduk sini , Bu...nggak apa-apa...", kasihaaan pikirku...aku tak berdiri aja deh....sambil lihat-lihat ke lantai bawah yang penuuuh pasien,seliweran dokter, perawat, mahasiswa, dan kantin-kantin makanan penuh orang sarapan....begitu kulihat kursi masih ada sedikit untukku, aku duduk lagi di sebelahnya.

Sedikit ngantuk....kudengar pelan-pelan Ibu itu bicara sendiri...karena hanya aku yang dengar, yaaa kudengarin aja. "Punya anak empat...semua jauh". Aku manggut-manggut sambil melirik kepadanya. "Yaaa begini ini nak...sudah tua, penyakit numpuk,suami nggak ada, anak nggak ada....". Langsung aku tertarik tuk bertanya sesuatu. "Lho...suami ke mana...?" "Sudah meninggal....". "Lha anak-anak Ibu ke mana...?" "Anak saya empat naaak, satu di Bandung, satu di luar Jawa, dua di Jakarta, semua sudah jadi 'orang', sukses...". Sambil tersenyum dan bangga, dia menoleh ke arahku...."Sampean masih muda naaak seperti anakku yang nomer tiga, umurnya baru 30 tahun....". Alhamdulilllah padahal aku sudah hampir empat puluh...? 10 tahun tampak lebih muda menurutnya....

Bagaimana anak-anaknya yang katanya dah sukses, dah jadi orang, membiarkan ibunya seorang diri...berobat ke rumah sakit ini??? Maaf, tahu sendiri kan bagaimana di rumah sakit pemerintah? Terseret-seret jalannya, tasnya udah kumal, bajunya udah bau keringat, masyaalloh.....di manakah anak-anakmu buuuuuu? Berkecamuk segala macam pertanyaan,bisa kah di sebut anak durhaka mereka? duh...Alloh...ampuni mereka yang tidak mengerti akan penderitaan ibunya...ibunya...ibunya...anak empaaat kan cukup banyak? Bisa berbagi tugas merawat ibunya? Bisa berbagi duit tuk menafkahi ibunya? "Yaaah nak, Aku dulu merawat, mendidik anak-anaku, dengan disiplin yang bagus, kukasih dia gizi yang terbaik, kusekolahkan dia dengan sekolah yang terbaik,kuajari ngaji, kusuruh sholat lima waktu, karena aku ingin anak-anakku jadi orang sukses, nggak seperti aku yang cuma ibu rumah tangga....". Dengan tak henti-henti nya dia bercerita...membanggakan anak-anaknya.....

Karena sudah tak tahan lagi, aku tiba-tiba protes dengan nada agak tinggi "Lho ! Bu! Lha sekarang kemana semuaaa tuh anak-anak yang ibu ceritakan?!". Ibu itu kaget! Menatapku...tapi kembali tersenyuuum...duuuh Ibu ini....bikin aku gregetan aja...dia ambil nafas dalam-dalam sambil sedikit menerawang jauuuh mungkin sedang menyusun kata-kata tuk menjawab pertanyaanku....."Aku memang sengaja merahasiakan keluh kesahku, sengaja menutup-nutupi sakitku,sengaja...semua kusengaja...agar anak-anakku nggak ikut sedih, aku ingin mereka sukses dengan kariernya naaak, biarlah dunia mereka jadi miliknya, biarlah duniaku saat ini hanya aku yang menikmati, biarlaah...biarlaaah mereka hanya tahu Ibunya senang,sehat, dan masih kuat membiayai hidupnya sendiri....". Aku trenyuuuh mendengarnya...menetes air mataku..tapi cepat-cepat ku apus...takut Ibu itu tahu....dilanjutkannya lagi..."Lha yo naaak, anak sedikit, anak banyak....sama aja...semua akan meninggalkanmu nak, tapi biarlaaah jangan kita ini nggandoli, menambah beban pikiran mereka, lha yang penting keluarganya baik-baik, jadi orang sukses, yaaa sudah...aku nggak minta yang lain-lain lagi, itu memang sudah menjadi cita-citaku...nak?"

Duuuuh semudah itu Ibu itu bercerita dan bertutur kata.....salahkah? Benarkah? Aaaah itu sudah menjadi pilihannya menjalani hidupnya.....selanjutnya aku hanya bisa diam...."Bu Irma!" yaaaah sudah dipanggil.....

Saturday, December 12, 2009

Lubang terdalam di dunia

Posted by jokerkeriting on February 17, 2009

Lubang ini tidak hanya luar biasa, namun beberapa di antaranya benar-benar menakutkan – terutama no 8. Lubang-lubang ini mengingatkan kita tentang bagaimana kecilnya kita.

1. Kimberley Big Hole – South Africa

Lubang ini adalah yang terbesar pernah digali manusia di atas bumi ini, tambang ini mempunyai kedalaman 1.097 meter dan telah menghasilkan lebih dari 3 ton berlian sebelum ditutup pada tahun 1914.

Jumlah tanah yang terbuang oleh penambangan diperkirakan sekitar 22.5 juta ton.

****

2. Glory Hole – Monticello Dam, California

Glory hole berguna ketika bendungan dalam kondisi kelebihan air yang harus dilimpaskan dari waduk.

Ini adalah ‘Glory Hole’ di Bendungan Monticello, dan merupakan spillway terbesar di dunia, dengan ukuran ini mampu melimpaskan 14.400 kaki kubik air setiap detik.


Lubang dapat dilihat pada bagian kiri atas foto di atas. Jika Anda terjun ke dalam spillway untuk beberapa alasan, tubuh Anda akan memancar keluar di bagian bawah bendungan (di bawah).

***

3.Bringham Canyon Mine, Utah

Lubang ini dibuat manusia untuk pertambangan. Pengerukan dimulai pada tahun 1863 dan masih terus berlangsung sampai dengan hari ini. Pada saat ini ukuran lubang adalah dengan kedalaman 0,75 mil dan lebar 2,5 mil.

***

4.Great Blue Hole, Belize

Fenomena geografis yang luar biasa ini dikenal sebagai “blue hole” terletak 60 mil di bagian daratan Belize. Terdapat banyak “blue hole” di seluruh dunia, tetapi tidak seperti yang menakjubkan ini.

Pada permukaan diameter lubang adalah 0,25 mil, dengan kedalaman mencapai 145 meter. Dengan jelas bisa diamati dengan menyelam.

***

5.Mimmy Diamond Mine, Serbia

Banyak orang telah melihat lubang satu ini. Mereka berpendapat bahwa penambangan intan ini hasil perbuatan manusia terburuk yang pernah ada di dunia. Pada 525 meter kedalaman dan diameter atas 1200 meter, bahkan telah ditetapkan larangan terbang di atas zona lubang karena beberapa helikopter pernah jatuh kedalam lubang tersebut.

Panah merah pada foto di atas adalah yang truk besar.

***

6.Diavik Mine, Canada

Tambang luar biasa ini dapat ditemukan 300 km Yellowknife di timur laut Kanada.

Tambang ini sangat besar dan berada di daerah yang jauh sehingga memiliki bandara dengan landasan yang cukup besar untuk menampung sebuah Boeing 737. Sangat indah terlihat dari atas ketika musim dingin dan di sekitarnya adalah gurun es .

***

7. Sinkhole in Guatemala

Sinkhole disebabkan ketika air, biasanya air hujan atau air selokan, di pompa dari bumi pada skala besar, sehingga menyebabkan perubahan tekanan dari bawah, ketidakstabilan alam dan menyebabkan permukaan tanah “collaps” atau runtuh ke dalam bumi.
PS : Liat lah perbandingan lubang Guatemala dengan Patung Liberty , 2 kali lipatnya lebih !!

Ini adalah foto dari sinkhole yang terjadi awal tahun 2003 di Guatemala. Lubang ini menelan belasan rumah dan menewaskan sedikitnya 3 orang.

Kesalahan pekerja menyebabkan lubang runtuh dan memutuskan pipa kotoran.

Implementasi TQM di Madrasah

Implementasi TQM di Madrasah
Fatah Syukur*)

Abstraksi
Peningkatan kualitas merupakan salah satu prasyarat agar kita dapat memasuki era globlalisasi yang penuh dengan persaingan. Keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam tidak akan lepas dari persaingan global tersebut. Untuk itu peningakat kualitas merupakan agenda utama dalam meningkatkan mutu madrasah agar dapat survive dalam era global.
TQM (Total Quality Management) merupakan konsep peningkatan mutu secara terpadu di bidang manajemen dan masih cukup baru dalam dunia pendidikan. Artikel ini mencoba mengimplementasikan konsep TQM untuk Madrasah. Walaupun keberadaan madrasah secara formal sama dengan sekolah, tetapi kekhasan kultur madrasah tetap membedakan dengan kultur sekolah umum. Oleh karena itu, apakah TQM dapat diterapkan di madrasah, prasyarat apa yang diperlukan agar TQM itu berhasil, apa kendala-kendalanya. Inilah pertanyaan-pertanyaan yang dimuculkan dalam artikel ini.

Keywords : Total Quality Management, Mutu, dan Madrasah,


Pendahuluan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan dapat dipecahkan dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain manfaat bagi kehidupan manusia di satu sisi perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut.
Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kuailtas pendidikan. Salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan hasil ujian nasional siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah/madrasah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.
Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil.
[1] Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah/madrasah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri.
Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah/madrasah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.
Diskusi tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas-batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition to improve student achievement). Disamping itu mengingat sekolah/madrasah sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya, maka sekolah/madrasah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. hal ini akan dapat dilaksanakan jika sekolah/madrasah dengan berbagai keragamannya itu, diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya. Walaupun demikian, agar mutu tetap terjaga dan agar proses peningkatan mutu tetap terkontrol, maka harus ada standar yang diatur dan disepakati secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut (adanya benchmarking). Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah/madrasah sebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan.

Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah/madrasah.
Bervariasinya kebutuhan siswa akan belajar, beragamnya kebutuhan guru dan staff lain dalam pengembangan profesionalnya, berbedanya lingkungan sekolah/madrasah satu dengan lainnya dan ditambah dengan harapan orang tua/masyarakat akan pendidikan yang bermutu bagi anak dan tuntutan dunia usaha untuk memperoleh tenaga bermutu, berdampak kepada keharusan bagi setiap individu terutama pimpinan kelompok harus mampu merespon dan mengapresiasikan kondisi tersebut di dalam proses pengambilan keputusan. Ini memberi keyakinan bahwa di dalam proses pengambilan keputusan untuk peningkatan mutu pendidikan mungkin dapat dipergunakan berbagai teori, perspektif dan kerangka acuan (framework) dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat terutama yang memiliki kepedulian kepada pendidikan. Karena sekolah/madrasah berada pada pada bagian terdepan dari pada proses pendidikan, maka diskusi ini memberi konsekwensi bahwa sekolah/madrasah harus menjadi bagian utama di dalam proses pembuatan keputusan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Sementara, masyarakat dituntut partisipasinya agar lebih memahami pendidikan, sedangkan pemerintah pusat berperan sebagai pendukung dalam hal menentukan kerangka dasar kebijakan pendidikan.
Strategi ini berbeda dengan konsep mengenai pengelolaan sekolah/madrasah yang selama ini kita kenal. Dalam sistem lama, birokrasi pusat sangat mendominasi proses pengambilan atau pembuatan keputusan pendidikan, yang bukan hanya kebijakan bersifat makro saja tetapi lebih jauh kepada hal-hal yang bersifat mikro; Sementara sekolah/madrasah cenderung hanya melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, lingkungan Sekolah/madrasah, dan harapan orang tua. Pengalaman menunjukkan bahwa sistem lama seringkali menimbulkan kontradiksi antara apa yang menjadi kebutuhan sekolah/madrasah dengan kebijakan yang harus dilaksanakan di dalam proses peningkatan mutu pendidikan. Fenomena pemberian kemandirian kepada sekolah/madrasah ini memperlihatkan suatu perubahan cara berpikir dari yang bersifat rasional, normatif dan pendekatan preskriptif di dalam pengambilan keputusan pandidikan kepada suatu kesadaran akan kompleksnya pengambilan keputusan di dalam sistem pendidikan dan organisasi yang mungkin tidak dapat diapresiasiakan secara utuh oleh birokrat pusat. Hal inilah yang kemudian mendorong munculnya pemikiran untuk beralih kepada konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah/madrasah sebagai pendekatan baru di Indonesia, yang merupakan bagian dari desentralisasi pendidikan yang tengah dikembangkan.
Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah/madrasah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah/madrasah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effective school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan (Edmond, 1979). Beberapa indikator yang menunjukkan karakter dari konsep manajemen ini antara lain sebagai berikut; (i) lingkungan sekolah/madrasah yang aman dan tertib, (ii) sekolah/madrasah memilki misi dan target mutu yang ingin dicapai, (iii) sekolah/madrasah memiliki kepemimpinan yang kuat, (iv) adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah/madrasah (kepala sekolah/madrasah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi, (v) adanya pengembangan staf sekolah/madrasah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK, (vi) adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, dan (vii) adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat. Pengembangan konsep manajemen ini didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan, strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah dan otoritas pendidikan. Pendidikan ini menuntut adanya perubahan sikap dan tingkah laku seluruh komponen sekolah/madrasah; kepala sekolah/madrasah, guru dan tenaga/staf administrasi termasuk orang tua dan masyarakat dalam memandang, memahami, membantu sekaligus sebagai pemantau yang melaksanakan monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan sekolah/madrasah yang bersangkutan dengan didukung oleh pengelolaan sistem informasi yang presentatif dan valid. Akhir dari semua itu ditujukan kepada keberhasilan sekolah/madrasah untuk menyiapkan pendidikan yang berkualitas/bermutu bagi masyarakat.
Dalam pengimplementasian konsep ini, sekolah/madrasah memiliki tanggung jawab untuk mengelola dirinya berkaitan dengan permasalahan administrasi, keuangan dan fungsi setiap personel sekolah/madrasah di dalam kerangka arah dan kebijakan yang telah dirumuskan oleh pemerintah. Bersama-sama dengan orang tua dan masyarakat, sekolah/madrasah harus membuat keputusan, mengatur skala prioritas disamping harus menyediakan lingkungan kerja yang lebih profesional bagi guru, dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta keyakinan masyarakat tentang sekolah/madrasah/pendidikan. Kepala sekolah/madrasah harus tampil sebagai koordinator dari sejumlah orang yang mewakili berbagai kelompok yang berbeda di dalam masyarakat sekolah/madrasah dan secara profesional harus terlibat dalam setiap proses perubahan di sekolah/madrasah melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total dengan menciptakan kompetisi dan penghargaan di dalam sekolah/madrasah itu sendiri maupun sekolah/madrasah lain.
Ada empat hal yang terkait dengan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total yaitu; (i) perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus-menerus mengumandangkan peningkatan mutu, (ii) kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah/madrasah, (iii) prestasi harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan, (iv) sekolah/madrasah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap arief bijaksana, karakter, dan memiliki kematangan emosional.
Sistem kompetisi tersebut akan mendorong sekolah/madrasah untuk terus meningkatkan diri, sedangkan penghargaan akan dapat memberikan motivasi dan meningkatkan kepercayaan diri setiap personel sekolah/madrasah, khususnya siswa. Jadi sekolah/madrasah harus mengontrol semua semberdaya termasuk sumber daya manusia yang ada, dan lebih lanjut harus menggunakan secara lebih efisien sumber daya tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat bagi peningkatan mutu khususnya. Sementara itu, kebijakan makro yang dirumuskan oleh pemerintah atau otoritas pendidikan lainnya masih diperlukan dalam rangka menjamin tujuan-tujuan yang bersifat nasional dan akuntabilitas yang berlingkup nasional.

Pengertian Mutu
Dalam kerangka umum, mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam "proses pendidikan" yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah/madrasah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah/madrasah, dukungan kelas berfungsi mensinkronisasikan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler, baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Mutu dalam konteks "hasil pendidikan" mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah/madrasah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum, Ebta atau UAN). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer, beragam jenis teknik, jasa. Bahkan prestasi sekolah/madrasah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, dan sebagainya.
Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam arti hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah/madrasah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawab sekolah/madrasah dalam school based quality improvement bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai . Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah/madrasah, terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau "kognitif" dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya: NEM oleh KKG atau MGMP). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap sekolah/madrasah baik yang sudah ada patokannya (benchmarking) maupun yang lain (kegiatan ekstra-kurikuler) dilakukan oleh individu sekolah/madrasah sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Dalam hal ini RAPBS harus merupakan penjabaran dari target mutu yang ingin dicapai dan skenario bagaimana mencapainya.

Pengertian dan Prinsip Mutu Terpadu
Mendefinisikan mutu / kualitas memerlukan pandangan yang komprehensif. Ada beberapa elemen bahwa sesuatu dikatakan berkualitas, yakni;
[2]
1. Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
2. Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan
3. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (apa yang dianggap berkualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada saat yang lain)
4. Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
Mutu terpadu atau disebut juga Total Quality Management (TQM) dapat didefinisikan dari tiga kata yang dimilikinya yaitu: Total (keseluruhan), Quality (kualitas, derajat/tingkat keunggulan barang atau jasa), Management (tindakan, seni, cara menghendel, pengendalian, pengarahan). Dari ketiga kata yang dimilikinya, definisi TQM adalah: “sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dengan kegiatan yang diupayakan benar sekali (right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous improvement) dan memotivasi karyawan “ (Kid Sadgrove, 1995)
[3]
Seperti halnya kualitas, Total Quality Management dapat diartikan sebagai berikut;[4] 1)Perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan pengertian serta kepuasan pelanggan (Ishikawa, 1993, p.135). 2) Sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi (Santosa, 1992, p.33). 3) Suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya.
Total Quality Approach hanya dapat dicapai dengan memperhatikan karakteristik sebagai berikut;
1. Fokus pada pelanggan (internal & Eksternal)
2. Memiliki obsesi tinggi terhadap kualitas
3. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
4. Memiliki komitmen jangka panjang
5. Membutuhkan kerjasama tim (teamwork)
6. Memperbaiki proses secara kontinu
7. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
8. Memberikan kebebasan yang terkendali
9. Memiliki kesatuan tujuan
10. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan

Sedangkan tujuan sistem mutu adalah memberikan keyakinan bahwa produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan (dapat pula disebut sebagai keluaran) memenuhi persyaratan mutu pembeli. Sistem mutu tersebut mencakup baik jaminan mutu maupun pengendalian mutu.
[5]
Ada beberapa tokoh yang mengemukakan prinsip-prinsip TQM. Salah satunya adalah Bill Crash, 1995, mengatakan bahwa program TQM harus mempunyai empat prinsip bila ingin sukses dalam penerapannya. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Program TQM harus didasarkan pada kesadaran akan kualitas dan berorientasi pada kualitas dalam semua kegiatannya sepanjang program, termasuk dalam setiap proses dan produk.
2. Program TQM harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat dalam memberlakukan karyawan, mengikutsertakannya, dan memberinya inspirasi.
3. Progran TQM harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan wewenang disemua tingkat, terutama di garis depan, sehingga antusiasme keterlibatan dan tujuan bersama menjadi kenyataan.
4. Program TQM harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua prinsip, kebijaksanaan, dan kebiasaan mencapai setiap sudut dan celah organisasi.
Lebih lanjut Bill Creech, 1996, menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam sistem TQM harus dibangun atas dasar 5 pilar sistem yaitu; Produk, Proses, Organisasi, Kepemimpinan, dan Komitmen.
Lima Pilar TQM
PRODUK
PROSES
ORGANISASI
PEMIMPIN
KOMITMEN






Produk adalah titik pusat untuk tujuan dan pencapaian organisasi. Mutu dalam produk tidak mungkin ada tanpa mutu di dalam proses. Mutu di dalam proses tidak mungkin ada tanpa organisasi yang tepat. Organisasi yang tepat tidak ada artinya tanpa pemimpin yang memadai. Komitmen yang kuat dari bawah ke atas merupakan pilar pendukung bagi semua yang lain. Setiap pilar tergantung pada keempat pilar yang lain, dan kalau salah satu lemah dengan sendirinya yang lain jga lemah.

Manfaat Program Mutu Terpadu [TQM].
TQM sangat bermanfaat baik bagi pelanggan, institusi, maupun bagi staf organisasi.
Manfaat TQM bagi pelanggan adalah:
1. Sedikit atau bahkan tidak memiliki masalah dengan produk atau pelayanan.
2. Kepedulian terhadap pelanggan lebih baik atau pelanggan lebih diperhatikan.
3. Kepuasan pelanggan terjamin.
Manfaat TQM bagi institusi adalah:
1. Terdapat perubahan kualitas produk dan pelayanan
2. Staf lebih termotivasi
3. Produktifitas meningkat
4. Biaya turun
5. Produk cacat berkurang
6. Permasalahan dapat diselesaikan dengan cepat.
Manfaat TQM bagi staf Organisasi adalah:
1. Pemberdayaan
2. Lebih terlatih dan berkemampuan
3. Lebih dihargai dan diakui
Manfaat lain dari implementasi TQM yang mungkin dapat dirasakan oleh institusi di masa yang akan datang adalah:
1. Membuat institusi sebagai pemimpin (leader) dan bukan hanya sekedar pengikut (follower)
2. Membantu terciptanya tim work
3. Membuat institusi lebih sensitif terhadap kebutuhan pelanggan
4. Membuat institusi siap dan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan
5. Hubungan antara staf departemen yang berbeda lebih mudah

Persyaratan Implementasi TQM
Agar implementasi program TQM berjalan sesuai dengan yang diharapkan diperlukan persyaratan sebagai berikut:
1. Komitmen yang tinggi (dukungan penuh) dari menejemen puncak.
2. Mengalokasikan waktu secara penuh untuk program TQM
3. Menyiapkan dana dan mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas
4. Memilih koordinator (fasilitator) program TQM
5. Melakukan banchmarking pada perusahaan lain yang menerapkan TQM
6. Merumuskan nilai (value), visi (vision) dan misi (mission)
7. Mempersiapkan mental untuk menghadapi berbagai bentuk hambatan
8. Merencanakan mutasi program TQM.
[6]

Peranan Pemimpin dan Staf Dalam Implementasi TQM
Pemimpin berperan dalam implementasi program TQM mulai dari menetapkan tujuan hingga alokasi waktu yang cukup. Kepemimpinan organisasi yang umum digunakan dapat dibedakan dalam empat model gaya kepemimpinan yaitu: model autocrasi, model feudal, model egalitarian, model anarchic. Adapun model kepemimpinan yang sangat cocok dengan budaya TQM adalah model egalitarian, karena pada model ini seorang pemimpin memberikan kebebasan kepada karyawan untuk bekerja. Karyawan berkomunikasi ke atas dan ke bawah di dalam departemennya bahkan dapat melewati departemen yang lain. Tim antar departemen dapat dibentuk untuk menyelesaikan masalah tertentu, pada model kepemimpinan ini.
Menurut pengalaman Deming dan Juran disimpulkan bahwa sistem dan menejemen lebih menentukan keberhasilan perusahaan. Namun, tanpa dukungan karyawan maka keberhasilan itu tidak akan sempurna. Kesuksesan TQM yang dapat mengenali karyawan hanya dapat mencapai hasil terbaik ketika budaya perusahan mendukung dan sistem yang jelek diperbaiki secara seksama. Implikasinya adalah menejemen harus mendorong karyawan yang berada ditingkat bawah untuk membuat keputusan mereka sendiri dan karyawan harus dipercayai dalam mengerjakan tugasnya tanpa harus dimonitor setiap gerak-geriknya. Hal ini merupakan prinsip pemberdayaan (empowerment) karyawan.
[7]

Sifat-sifat Agar Pelanggan Puas
Sedikitnya terdapat lima sifat layanan yang harus diwujudkan agar pelanggan puas yang meliputi :
[8]
1. Reability (kepercayaan), yaitu layanan sesuai dengan yang dijanjikan
2. Assurance (keterjaminan), yaitu mampu menjamin kualitas layanan yang diberikan
3. Tangible (penampilan), yaitu iklim sekolah/madrasah yang kondusif
4. Emphaty (perhatian), yaitu memberikan perhatian penuh kepada peserta didik
5. Responsiveness (ketanggapan), yaitu tepat tanggap terhadap kebutuhan peserta didik.

Strategi pelaksanaan di tingkat sekolah/madrasah
Dalam rangka mengimplementasikan konsep manajemen peningkatan mutu yang berbasis sekolah/madrasah ini, maka melalui partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua, siswa, guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan sekolah/madrasah harus melakukan tahapan kegiatan sebagai berikut :
· Penyusunan basis data dan profil sekolah/madrasah lebih presentatif, akurat, valid dan secara sistimatis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf), dan keuangan.
· Melakukan evaluasi diri (self assesment) utnuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah/madrasah, personil sekolah/madrasah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya.
· Berdasarkan analisis tersebut sekolah/madrasah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah/madrasah dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai. Hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan identifikasi kebutuhan dan perumusan visi, misi dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar, penyediaan sumber daya dan pengeloaan kurikulum termasuk indikator pencapaian peningkatan mutu tersebut.
· Berangkat dari visi, misi dan tujuan peningkatan mutu tersebut sekolah/madrasah bersama-sama dengan masyarakatnya merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan termasuk anggarannnya). Program tersebut memuat sejumlah program aktivitas yang akan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan nasional yang telah ditetapkan dan harus memperhitungkan kunci pokok dari strategi perencanaan tahun itu dan tahun-tahun yang akan datang. Perencanaan program sekolah/madrasah ini harus mencakup indikator atau target mutu apa yang akan dicapai dalam tahun tersebut sebagai proses peningkatan mutu pendidikan (misalnya kenaikan NEM rata-rata dalam prosentase tertentu, perolehan prestasi dalam bidang keterampilan, olah raga, dsb). Program sekolah/madrasah yang disusun bersama-sama antara sekolah/madrasah, orang tua dan masyarakat ini sifatnya unik dan dimungkinkan berbeda antara satu sekolah/madrasah dan sekolah/madrasah lainnya sesuai dengan pelayanan mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Karena fokus kita dalam mengimplementasian konsep manajemen ini adalah mutu siswa, maka program yang disusun harus mendukung pengembangan kurikulum dengan memperhatikan kurikulum nasional yang telah ditetapkan, langkah untuk menyampaikannya di dalam proses pembelajaran dan siapa yang akan menyampaikannya.
Dua aspek penting yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah kondisi alamiah total sumber daya yang tersedia dan prioritas untuk melaksankan program. Oleh karena itu, sehubungan dengan keterbatasan sumber daya dimungkinkan bahwa program tertentu lebih penting dari program lainnya dalam memenuhi kebutuhan siswa untuk belajar. Kondisi ini mendorong sekolah/madrasah untuk menentukan skala prioritas dalam melaksanakan program tersebut. Seringkali prioritas ini dikaitkan dengan pengadaan peralatan bukan kepada output pembelajaran. Oleh karena itu dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen tersebut sekolah/madrasah harus membuat skala prioritas yang mengacu kepada program-program pembelajaran bagi siswa. Sementara persetujuan dari proses pendanaan harus bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan keuangan melainkan harus merefleksikan kebijakan dan prioritas tersebut. Anggaran harus jelas terkait dengan program yang mendukung pencapaian target mutu. Hal ini memungkinkan terjadinya perubahan pada perencanaan sebelum sejumlah program dan pendanaan disetujui atau ditetapkan.
· Prioritas seringkali tidak dapat dicapai dalam rangka waktu satu tahun program sekolah/madrasah, oleh karena itu sekolah/madrasah harus membuat strategi perencanaan dan pengembangan jangka panjang melalui identifikasi kunci kebijakan dan prioritas. Perencanaan jangka panjang ini dapat dinyatakan sebagai strategi pelaksanaan perencanaan yang harus memenuhi tujuan esensial, yaitu : (i) mampu mengidentifikasi perubahan pokok di sekolah/madrasah sebagai hasil dari kontribusi berbagai program sekolah/madrasah dalam periode satu tahun, dan (ii) keberadaan dan kondisi natural dari strategi perencanaan tersebut harus menyakinkan guru dan staf lain yang berkepentingan (yang seringkali merasakan tertekan karena perubahan tersebut dirasakan harus melaksanakan total dan segera) bahwa walaupun perubahan besar diperlukan dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa, tetapi mereka disediakan waktu yang representatif untuk melaksanakannya, sementara urutan dan logika pengembangan juga telah disesuaikan. Aspek penting dari strategi perencanaan ini adalah program dapat dikaji ulang untuk setiap periode tertentu dan perubahan mungkin saja dilakukan untuk penyesuaian program di dalam kerangka acuan perencanaan dan waktunya.
· Melakukan monitoring dan evaluasi untuk menyakinkan apakah program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan, apakah tujuan telah tercapai, dan sejauh mana pencapaiannya. Karena fokus kita adalah mutu siswa, maka kegiatan monitoring dan evaluasi harus memenuhi kebutuhan untuk mengetahui proses dan hasil belajar siswa. Secara keseluruhan tujuan dan kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah untuk meneliti efektifitas dan efisiensi dari program sekolah/madrasah dan kebijakan yang terkait dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Seringkali evaluasi tidak selalu bermanfaat dalam kasus-kasus tertentu, oleh karenanya selain hasil evaluasi juga diperlukan informasi lain yang akan dipergunakan untuk pembuatan keputusan selanjutnya dalam perencanaan dan pelaksanaan program di masa mendatang. Demikian aktifitas tersebut terus menerus dilakukan sehingga merupakan suatu proses peningkatan mutu yang berkelanjutan.

Hambatan dalam peningkatan kualiatas
Hal penting yang perlu diperhatian dalam mengimplementasikan TQM adalah hambatan-hambatan yang mungkin akan ditemui. Menurut Deming, ada “tujuh penyakit yang mematikan” sebagai hambatan dalam peningkatan kualitas, empat yang paling mematikan yaitu:
1. Kurang konstannya tujuan, sehingga organisasi terhambat untuk mengadopsi kualitas sebagai manajemen;
2. adanya pemikiran jangka pendek;
3. adanya evaluasi individual yang hanya dilakukan melalui skala pertimbangan atau laporan tahunan; dan
4. adanya ‘Job Hope’ (mengharapkan jabatan).
[9]
Deming juga mengutarakan penyebab gagalnya kualitas dalam pendidikan disebabkan oleh sumber-sumber pendidikan itu sendiri, termasuk design kurikulum, gedung sekolah/madrasah yang kurang terawat, lingkungan kerja yang buruk, system dan prosedur yang tidak sesuai, penjadwalan yang tidak memadai, kurangnya sumber-sumber yang penting dan pengembangan staf yang tidak memadai.
Kegagalan TQM dapat juga diakibatkan oleh usaha pelaksanaan yang setengah hati dan harapan-harapan yang tidak realistis, ada pula beberapa kesalahan yang secara umum dilakukan pada saat organisasi memulai inisitaif perbaikan kualitas. Kesalahan-kesalahan tersebut antara lain:
1. Delegasi dan kepemimpinan yang tidak baik dari menejemen senior.
2. Team mania.
3. Proses penyebarluasan (deployment)
4. Menggunakan pendekatan yang terbatas dan dogmatis.
5. Harapan yang terlalu berlebihan
6. Empowering yang bersifat premature.
[10]

Penutup
Dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen ini, strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah/madrasah antara lain meliputi evaluasi diri untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan sekolah/madrasah. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut sekolah/madrasah bersama-sama orang tua dan masyarakat menentukan visi dan misi sekolah/madrasah dalam peningkatan mutu pendidikan atau merumuskan mutu yang diharapkan dan dilanjutkan dengan penyusunan rencana program sekolah/madrasah termasuk pembiayaannya, dengan mengacu kepada skala prioritas dan kebijakan nasional sesuai dengan kondisi sekolah/madrasah dan sumber daya yang tersedia. Dalam penyusunan program, sekolah/madrasah harus menetapkan indikator atau target mutu yang akan dicapai. Kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah melakukan monitoring dan evaluasi program yang telah direncanakan sesuai dengan pendanaannya untuk melihat ketercapaian visi, misi dan tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan kebijakan nasional dan target mutu yang dicapai serta melaporkan hasilnya kepada masyarakat dan pemerintah. Hasil evaluasi (proses dan output) ini selanjutnya dapat dipergunakan sebagai masukan untuk perencanaan/penyusunan program sekolah/madrasah di masa mendatang (tahun berikutnya). Demikian terus menerus sebagai proses yang berkelanjutan.
Untuk pengenalan dan menyamakan persepsi sekaligus untuk memperoleh masukan dalam rangka perbaikan konsep dan pelaksanaan manajemen ini, maka sosialisasi harus terus dilakukan. Kegiatan-kegiatan yang bersifat pilot/uji coba harus segera dilakukan untuk mengetahui kendala-kendala yang mungkin muncul di dalam pelaksanaannya untuk dicari solusinya dalam rangka mengantisipasi kemungkinan-kemungkian kendala yang muncul di masa mendatang. Harapannya dengan konsep ini, maka peningkatan mutu pendidikan akan dapat diraih oleh kita sebagai pelaksanaan dari proses pengembangan sumber daya manusia menghadapi persaingan global yang semakin ketat dan ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara cepat.

Daftar Pustaka
Bambang H. Hadi Wiardjo dan Sulistijarningsih Wibisono,Memasuki Pasar Internasional Dengan ISO 9000, Sistem Manajemen Mutu, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996).
Bendell, Tony, and Boulter, Louise, and Kelly, John, Benchmarking for Competitive Advantage, (United Kingdom: Pitman Publishing, 1993).
Dikmenum, Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah/madrasah: Suatu Konsepsi Otonomi Sekolah/madrasah (paper kerja), (Jakarta: Depdikbud, 1999).
Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality Management, (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2003).
Karlof, Bengt and Ostblom, Svante, Benchmarking : A signpost to Excellence in Quality and Productivity, (New York, USA: John Wiley and Soons, 1994).
Roger,Everett M., Diffusion of Innovations, The Free Press, (New New York, USA.: 1995).
Semiawan, Conny R., dan Soedijarto, Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI, (Jakarta: PT. Grasindo, 1991).
Soegito, MM, Prof. Dr. HAT. Total Quality Management, (Semarang: UNNES, 2002).
Umedi, Dr., M.Ed., Manajemen Mutu Berbasis Sekolah/Madrasah (MMBS/M), (Jakarta: Pusat Kajian Mutu Pendidikan, 2004).
Victorian's Departement of Education, Developing School Charter: Quality Assurance in Victorian Schools, (Melbourne, Australia: Education Victoria, 1997).
Zulian Yamit, Msi, Manajemen Kualitas Produk Dan Jasa, (Yogyakarta: CV Adipura, 2001).
[1] Dr. Umedi, M.Ed., Manajemen Mutu Berbasis Sekolah/Madrasah (MMBS/M), (Jakarta: Pusat Kajian Mutu Pendidikan, 2004).
[2] Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality Management, (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2003), hlm. 3-4.
[3] Drs. Zulian Yamit, Msi, Manajemen Kualitas Produk Dan Jasa, (Yogyakarta: CV Adipura, 2001), hlm. 181.
[4] Op cit, hlm. 4
[5] Bambang H. Hadi Wiardjo dan Sulistijarningsih Wibisono, Memasuki Pasar Internasional Dengan ISO 9000, Sistem Manajemen Mutu, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996), hlm.7.
[6] Ibid, hlm. 186.
[7] Ibid, hlm. 190.
[8] Ibid
[9] Prof. Dr. HAT. Soegito, MM, Total Quality Management, (Semarang: UNNES, 2002), hlm. 14.
[10] Fendy Ciptono&Anastasia Dianan, Op-cit, hlm. 20.